Langsung ke konten utama

Postingan

Unggulan

Lelah

Tendang yang berdendang
mendepak sunyi
Sepi.

Cokelat yang tidak hangat itu kutimbang-timbang
Ini bukan kopi
Tapi tetap saja pahit, akibat hidupku.

Ingin rasanya raga berlari
Namun ia tak mungkin beranjak tanpa jiwa, si pengisi hidupnya.
Jiwaku pasrah ditimang-ayunkan oleh sosok yang menyebut dirinya ketidakpastian
dan masih candu terhadap air susu.

Badan menjadi urung,
jiwa hanyut,
dan diri hanya mampu meronta,
"ibu, aku takut!"


(Semoga semua ketidakpastian yang kupertanyakan hari ini segera menjadi pasti.)




Postingan Terbaru

Mångata [Bagian Satu]

Surat untuk Guntur

Memory Tracks

Tuhan di Antara Kita

Kuntum Sakura [Bagian 1]

Lelaki yang Memilih Pergi

Guntur

(Mencoba) Aktif Kembali!

Tahu. [Sebuah Sajak]

Menyimpan Memori